Ilmu menurut Agama Islam

PANDANGAN ISLAM TERHADAP ILMU

MAKALAH
Disusun dan diajukan guna memenuhi tugas terstruktur pada,
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu: Nurma Ali Ridwan, M.Ag

Disusun Oleh :

Sidik Rochmatuloh (082331138)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2009

Pandangan Agama Terhadap Ilmu

Orang zaman dahulu atau sering kita sebut orang primitif belum mempunyai pengetahuan ilmiah. Namun mereka punya pengetahuan dan sistem pengetahun tersendiri yang menyatu dengan mitos atau kepercayaan terhadap sesuatu.
Hingga Islam muncul dan pengetahuan ilmiah berkembang dari abad ke-10 sampai abad ke-15 dan dilanjutkan oleh negara Barat. Dalam dunia Islam, pengetahuan ilmiah dengan agama tidak kelihatan. Akan tetapi, dalam budaya Barat modern yang lebih menonjol, agama dipisah dari sistem ilmu pengetahuan.
Dunia Islam pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari agama. Karena menurut agama Islam, sumber dari segala pengetahuan ilmiah berasal dari Tuhan. Dan menurut negara Barat, pengetahuan tidak ada hubungannya dengan ilmu agama dan pengetahuan pada waktu itu harus dibebaskan dari ideologi, agama dan budaya ilmuan. Akibat dari pemisahan pengetahuan terhadap agama, ideologi dan budaya ini melahirkan masyarakat sekular yang hanya bertujuan untuk kehidupan dunia saja. Jadi, mereka sama sekali tidak memperdulikan adanya kehidupan akhirat dan juga dosa. Yang akan berimbas pada sumber daya alam dikuras dan dikuasai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai.
Itulah akibat dari tidak dilibatkannya pengaruh agama terutama keimanan. Seyogyanya kita memadukan iman dan ilmu untuk mencapai masyarakat yang beradab.

A. Pengertian Ilmu
Pengertian ilmu dalam bahasa Indonesia sama dengan pengertian al-‘ilm dalam bahasa Arab. Kata al-‘ilm itu lebih tepat diterjemahkan menjadi “pengetahuan” dalam bahasa Indonesia. Menurut agama Islam mengenai ilmu dapat kita lihat pada wahyu yang diturunkan pertama kali yaitu surat Al ‘alaq: 1-5 yang mengisyaratkan pada kita untuk membaca, membaca disini ada yang mengartikan sebagai membaca kondisi sosial masyarakat pada masa itu. Namun, Al-quran tidak secara gamblang untuk membaca sesuatu, karena Al-quran memerintahkan untuk membaca apa saja asal dengan menyebut nama Allah.

B. Perspektif Agama Islam terhadap Ilmu
Allah dalam surat Al-‘alaq: 1-5 memerintahkan untuk iqra’ dan Tuhan menyediakan Al-quran dan al-kawn (alam semesta) untuk menjadi sumber dalam menimba ilmu pengetahuan. Dari kegiatan iqra’ dalam mempelajari Al-quran muncul tiga jenis pengetahuan yaitu pengetahuan sains, filsafat dan mistik dan ini juga berlaku buat mempelajari al-kawn (alam semesta).
Pengetahuan sains adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan paradigama sains yang hanya mengambil objek empirik untuk diteliti, sedang objek yang tidak empirik buka ditolak tapi tidak dijadikan objek penelitian karena pengetahuan sains dikatakan benar jika berdasar rasio dan empirik.
Pengetahuan filsafat, pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan paradigma rasional dan sebagai objek kajiannya adalah sesuatu yang tidak dapat diteliti secara ilmiah karena abstrak tetapi masih bisa dipahami rasio sehingga dikatan abstrak-rasional. Pengetahuan ini dilakukan dengan metode rasional dan penilaian kebenarannya dibuktikan rasio tidaknya.
Pengetahuan mistik, merupakan jenis pengetahuan yang diperoleh dengan paradigma suprarasional atau metarasional, objek yang diteliti adalah sisa objek pengetahuan sains dan filsafat, jadi objek penelitiannya bersifat tidak empirik dan tidak rasional. Dan untuk mendapatkan pengetahuan ini menggunakan metode keimanan dan benar tidaknya temuan ditentukan oleh keyakinan kita.
Agama Islam sangat menjunjung tinggi orang yang mencari ilmu sesuai di dalam Al-quran surat al-Mujadalah: 11. Dimana Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Mencari ilmu bagi setiap muslim adalah wajib hukumnya. Banyak Al-quran dan sunnah memerintahkan untuk mencari ilmu, baik dari buaian hingga liang lahat.
Ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul dari makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Dimana dikisahkan dalam al-quran, saat kelahiran manusia pertama Nabi Adam a.s diajarkan oleh Allah berbagai nama benda-benda dan kemudian Allah menanyakan benda-benda itu kepada malaikat, yang malaikat itu tidak tahu nama benda tersebut. Disinilah letak kelebihan umat manusia daripada makhluk lain, kelebihan itu bukan dari segi fisik semata tapi dari pengetahuannya.
Islam secara singkat melalui pesan tersirat dalam Al-quran hadist mendukung pengembangan ilmu. Karena kita sebagai umat Islam, maka sumber atau “kiblat” kita dalam ilmu pengetahuan adalah Al-quran hadist. Pertama, prinsip seluruh pengetahun terdapat dalam Al-quran. Kedua, Al-quran dan hadits mendefinisikan lingkungan dan nilai-nilai yang inheren dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Inilah yang mendasari Islam bahwa pengetahuan pangkal akhirnya adalah Tuhan.
Al-Ghazali dalam karyanya Risalah Laduniyah membagi dua cara umum manusia memperoleh pengetahuan yaitu sumber insaniah dan sumber rabbaniyah. Sumber insaniah tadalah sumber ilmu pengetahuan yang diusahakan oleh manusia berdasarkan kekuatan rekayasa akal sehingga membentuk ilmu pengetahuan. Sedangkan sumber rabbaniah adalah sumber yang tidak bisa dicapai melalui kemampuan diri manusia, melainkan harus dengan informasi Allah melalui petunjuk, baik langsung (ilham yang dibisikkan kepada hati manusia) maupun berbentuk kitab suci yang diturunkan lewat rasul-Nya. Walaupun keduanya berbeda cara namun bersumber pada Allah SWT.
Dan menurut al-quran, sebagaimana disyariatkan oleh wahyu pertama, bahwa ilmu terdiri dari dua macam yaitu ‘ilm laduni dan ‘ilm kisby. Pembagian ini dikarenakan Al-quran memandang bahwa sesuatu ilmu itu ada tapi tidak bisa diketahui manusia sendiri dan ada ilmu yang sama sekali tidak tampak yang dijelaskan dalam Al-quran secara berulang-ulang. Sehingga pengetahuan ini mencakup materi nonmateri, fenomena dan nonfenomena. Ada wujud yang ada tapi manusia sendiri tidak melihat dan bahkan mengetahui saja tidak. Dari sini disimpulkan bahwa pengetahuan yang diberikan manusia masih belum seberapa dan wajar bila kita diperintahkan untuk “membaca”.

C. Peran dan Pentingnya Ilmu Pengetahuan Menurut Agama
Menurut al-Ghazali, tujuan kita mempelajari ilmu pengetahuan dari segi agama ada tiga yaitu, Ilmu pengetahuan sebagai wujud ibadah kepada Allah; Pembentukan akhlaq al karimah; Mengantarkan peserta didik mencapai kehidupan dunia dan akhirat.
Salah satu cara umat muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan mencari ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu pengetahuan kita tidak menjadi orang yang bodoh.
Dan Allah berjanji jika kita mencari ilmu, kita akan memperoleh derajat yang tinggi. Baik derajat tinggi di dalam kehidupan dunia maupun di akherat. Dari wajibnya Nabi sampai bersabda untuk mencari ilmu sampai negeri Cina, Dan kita wajib mencari ilmu dari buaian hingga liang lahat.
Antara ilmu dan iman sangat berkaitan dan berhubungan. Seorang yang berilmu tanpa mempunyai iman akan berakibat pemanfaatan pengetahuan secara berlebihan. Sedang orang beriman tanpa ilmu akan berakibat kebodohan dalam beribadah. Dan orang yang paling baik adalah orang yang memiliki ilmu dan iman. Dan menurut saya, orang yang paling buruk adalah orang yang tidak memiliki ilmu dan iman.

Kesimpulan

Agama memandang ilmu sebagai hal istimewa. Hal ini dibuktikan dengan ayat dan hadist yang berjanji akan mengangkat derajat orang yang mukmin dan berilmu.
Awal dari masyarakat manusia tidak ada pengatahuan ilmiah karena pada masa itu manusia manusia berlandaskan mitos. Yang mitos ini menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat.
Umat Islam menyakini bahwa segala ilmu bersumber dari Tuhan. Dan Tuhan sudah memberikan sumber ilmu berupa Al-quran dan alam semesta. Yang jika kita mengakajinya, lengkaplah ilmu kita.
Awal dari lahirnya usaha pengetahuan bagi umat Islam adalah disaat turunnya wahyu untuk pertama kalinya yaitu Al-‘alaq yang umat Islam diperintahkan untuk iqra’ terhadap kondisi sosial dan alam semesta.
Ilmu dibagi dua menurut Al-Ghazali, sumber insaniah dan rabbaniyah. Sumber insaniah adalah sumber yang diusahakan oleh aqal manusia sehingga tercipta suatu pengetahuan. Sumber rabbaniyah adalah pengetahuan yang manusia tidak bisa mempelajarinya tanpa informasi dari Tuhan.
Dan akhir dari mempelajari pengetahuan dari segi agama adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan gunakan ilmu sesuai dengan iman yang kita percayai dan jangan berlebihan.

Daftar Pustaka

Tafsir, Ahmad. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Agus, Bustanudin. 2006 Agama dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: Raja Grafindo Aksara
Ulum, Miftahul dan Basuki. 2007. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Ponorogo: STAIN Po PRESS
Michael Stanton, Charles. 1994. Pendidikan Tinggi dalam Islam. Jakarta: Logos
Nizar, Samsul dan Al Rasyidin. 2005. Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis: Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press

About these ads

~ oleh mfstudent pada November 16, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: