STUDI KISAH NYATA PERJUANGAN GURU

A. Pendahuluan

Pendidikan itu adalah hak semua orang yang ingin meraih kesuksesan masa depan dalam hidupnya. Pendidikan juga merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang yang punya nilai strategis bagi peradaban. Oleh sebab itu, hamper semua Negara menempatkan pendidikan sebagai hal penting dalam membangun bangsa.

Guru sebagai salah satu komponen penting pendidikan karena berada pada garis depan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulah yang nantinya mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai-nilai positif melalui keteladanan.

Melalui kisah guru istimewa, kisah nyata guru yang menjalani amanat yang diembannya dengan kisah menarik serta hikmah yang membangun didalamnya akan diulas disini.

 

  1. B. Hasil Resume

Kisah ibu guru anak rimba[1]

Rumah sokola adalah tempat Saur Marlina Manurung mengajar. Bangunan dengan tiang kayu beratap daun dan tidak berdinding. Rumah sokola sebutan untuk sekolah menjadi bukti betapa manis kerja sama para murid  dan sang guru dengan membangun sendiri yang memafaatkan bahan-bahan yang ada di lingkungannya. Rumah ini terletak didalam hutan Makekal Hulu kawan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Provinsi Jambi (225 km dari Jambi).

Suku Anak Dalam atau Orang Kubu yang makna kubu adalah bodoh dan terbelakang sebagai sebutan untuk masyarakat di pedalaman itu. Tapi mereka lebih suka disebut Orang rimba karena mereka berpegang pada adat dan bukannya tidak beradat.

“Sekolah diluar sana itu berarti melanggar adat, tapi sekolah disini bolehlah supaya kami tidak lagi ditipu oleh orang dusun,” ujar Tumenggung Mirak (kepala kelompok Orang Rimba). Keinginan agar anak rimba memperoleh pendidikan dengan tidak melanggar adat dijawab oleh Saur Marlina Manurung. Meski begitu, gadis yang biasa dipanggil Butet ini bekerja keras untuk mengembangkan pola pendidikan alternatif yang dapat diterima oleh Orang Rimba.

Sang guru pun sewaktu-waktu menjadi murid. Itulah yang disadari Butet bahwa anak-anak yang menjadi muridnya itu memiliki keahlian dan penguasaan terhadap tatacara kehidupan di hutan yang menjadi lingkungan keseharian mereka sejak lahir.

Sebelum mengenalkan pelajaran membaca, menulis dan berhitung, Butet lebih dahulu mempelajari bahasa dan budaya Orang Rimba karena tidak mudah  menyakinkan Orang Rimba bahwa menulis dan membaca tidak melanggar adat. Belajar sambil bermain dengan melibatkan kebudayaan dan lingkungan rimba menjadi prinsip penting pola pendidikan alternatif yang dikembangkan Butet. Seperti mengajarkan berhitung ketika anak-anak sedang mengumpulkan rotan hasil pencarian mereka dalam hutan. Pendidikan alternatif yang dikembangkan menghasilkan suasana akrab dalam proses belajar mengajarnya.

Bagi perempuan berdarah Batak kelahiran Jakarta ini menjadi “Ibu Guru” anak-anak Rimba bukan sekedar pekerjaan tapi kecintaan akan terhadap anak-anak, kekhasan budaya dan lingkungan alam.

 

Kisah Guru Honorer di  Papua[2]

Philipus Ratuhurit, guru honorer selama 15 tahun di Desa Saengga kecamatan Babo, Kabupaten Manokwari. Saengga adalah salah satu desa terpencil di pedalaman Papua. Rumahnya dari bambu ukuran 2 x 3 m sebatas menginap dan memasak serta menyiapkan materi sekolah.

Pengalaman Philip adalah pengalaman ribuan guru di Papua, tumpukan kayu bakar diluar rumahnya sebagai sumbangan para siswanya. “Sebenarnya saya sudah ingin tinggalkan tempat ini, tetapi saya ingat anak-anak. Bila saya pergi siapa yang akan mengajar disini.”, tutur Philip. Guru yang belum sempat menjadi pegawai negeri ini hidup dengan biaya pas-pasan untuk kehidupannya. Namun, ia mengaku menjadi guru adalah panggilan hidupnya. Ia tidak menuntut mendapatkan keuntungan tapi memberikan yang terbaik.

SD Saengga sekolah yang diajarnya, sebagian siswanya banyak yang tidak mengenakan pakaian seragam juga tidak memakai sepatu. Philip yang seharusnya sudah meninggalkan Saengga karena masyarakatnya tidak lagi mampu membayar guru honorer ini sangat mencintai anak-anak. “Saya masih sangat mencintai anak-anak. Mereka polos, jujur, sopan dan terbuka. Mereka menjadi jahat dan tidak percaya orang kalau kita memperlakukan mereka secara tidak adil.,”katanya.

Selain mengajar, guru dipedalaman adalah adalah tempat masyarakat desa bertanya. Masyarakat membutuhkan guru untuk musyawarah desa, penyelesaian adat perkawinan bahkan masalah formal. “masyarakat menilai guru adalah segala-galanya, sehingga semua persoalan dilaporkan kepada guru. Yang semestinya persoalan itu dilaporkan kepada kepala desa,” tuturnya.

 

Guru sebagai Komponen Utama Lembaga Pendidikan

Bayangkan peran guru dalam masyarakat, sebegitu besar tanggung jawab yang diemban dipundaknya. Anak-anak menjadi berakhlak, semua ini tidak akan terwujud tanpa ilmu dari guru. Tidak diragukan lagi bahwa manusia yang berhak mendapat penghargaan dan penghormatan ini adalah guru.

Sekali lagi banyangkan, sebuah tempat terpencil hidup sekelompok masyarakat. Tapi, sama sekali tidak ada guru didalamnya kelompok tersebut. Padahal guru sebagai samudera ilmu pengetahuan yang menerangi kehidupan. Pertanyaannya apa yang terjadi jika tempat terpencil itu tidak pernah kemasukan seorang guru dan perubahan apa yang terjadi andai ada sosok guru yang hadir di tempat itu?

Guru bukan hanya sekedar memberi ilmu pengetahuan pada murid-muridnya. Akan tetapi, dia seorang tenaga professional yang menjadikan muridnya mampu merencanakan, menganalisis, dan menyimpulkan masalah yang dihadapi.[3] Begitupun Butet dan muridnya bahwa posisi guru bukanlah mengenai siapa yang lebih tua atau lebih muda. Tapi, lebih mengenai siapa yang lebih berilmu pengetahuan. Murid Butet pun bisa menjadi guru dikala muridnya mengajarkannya kehidupan di hutan. Jadi, siapapun bisa menjadi guru dengan kelebihan yang dimiliki.

Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru. Melalui belajar mengajar tercipta kualitas sumber daya manusia melalui tangan guru baik secara akademis, skill, kematangan emosional dan moral serta spiritual. Oleh karena itu diperlukan guru yang punya kompetensi dan dedikasi tinggi menjalankan tugasnya.[4] Dedikasi tinggi suatu sifat yang cocok pada Philip ditengah kesederhanaan bahkan kekurangan. Tidak pantang menyerah mendidik demi masa depan anak didiknya.

Mengapa harus guru yang menjadi penentu mutu pendidikan? Kita lihat dari peran guru dalam pendidikan. Peran guru didalam kelas sebagai berikut,[5]

  1. Peran bak seorang pemimpin yang menjaga keadilan sosial.
  2. Peran bak seorang polisi yang menegakkan hukum.
  3. Peran bak sesepuh masyarakat yang mengajari muridnya prinsip hidup, nilai dan kebiasaan baik.
  4. Peran seseorang yang dijadikan rujukan karena keterampilan dan ilmu pengetahuan yang bermacam-macam.
  5. Peran seorang penasehat yang memberikan arahan dalam memecahkan masalah.

Bak seorang pemimpin yang menegakkan keadilan dan secara bijak memutuskan masalah. Hal yang terjadi pada Butet untuk mengajarkan membaca, menulis dan berhitung kepada anak-anak rimba ditengah hukum adat.

Peran bak seorang polisi yang menegakan hukum dan mengajari bagaimana hal yang baik itu harus dilakukan dan hal yang buruk mesti ditinggalkan. Kisah Butet yang membuka wawasan anak-anak rimba tentang hal baik dan buruk.

Peran bak sesepuh, rujukan dan penasehat yang menangarkan bagaimana bersikap karena luas wawasannya dan dirinya menjadi rujukan semua orang yang menganggap guru adalah orang yang tahu segala hal. Menjadi penasehat yang diharapkan member jalan keluar disetiap permasalahan. Seperti yang terjadi pada Philip, masyarakat mencitrakannya sebagai orang yang tahu segala dan bisa memecahkan masalahnya sehingga setiap permasalahan akan dilaporkannya.

Guru yang menjalani peran itu yang akan dicintai muridnya. Menurut Daniel Comiza, guru yang dicintai adalah sosok yang menerima dengan tulus dan bahagia. Menurut Flandrez, sifat yang menjadikan guru dicintai adalah menerima orang lain, ramah dan mampu melaksanakan tugas yang menjadi tanggungjawabnya.[6]

Hal itulah kenapa Butet dan Philip disenangi siswanya. Sifat menerima sebuah kesederhanaan dan kekurangan sebagai seorang guru, tidak menyurutkan langkah untuk mengajar siswanya karena sebuah tugas dan tanggungjawab. Mereka semua berhasil dalam mendidik karena mereka orang yang professional dalam tugasnya.

  1. C. Penutup

Suatu kesimpulan bahwa guru merupakan komponen utama dalam pendidikan melihat begitu berperannya guru dalam proses belajar mengajar. Bayangkan saja sekelompok masyarakat tanpa sosok guru.  Wawasan berupa ilmu pengetahuan tidak akan masuk ke dalam masyarakat tersebut. Ilmu pengetahun yang berupa prinsip kehidupan, sosial, moral dan spiritual yang sangat penting untuk keberlangsungan suatu masyarakat.

Itulah kenapa begitu besar peran sosok guru dalam pendidikan dan masyarakat yang dianggap sebagai seorang yang tahu tentang segalanya.

 

  1. D. Daftar Pustaka

Suhartono. 2005. Guru dalam Tinta Emas; Kisah Guru Istimewa. Cet I. Jakarta:PT Kompas Media Nusantara

Khalifah, Mahmud dan Usamah Quthub. 2009. Menjadi Guru yang Dirindu; Bagaimana Menjadi Guru yang Memikat dan Profesional. Surakarta: Ziyad Visi Media

Nurdin, Syafrudin dan Basyiruddin Usman. 2002. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: Ciputat Press

Kunandar. 2009. Guru Profesional; Implementasi Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Press

 


[1] Suhartono. Guru dalam Tinta Emas; Kisah Guru Istimewa. Cet I. Jakarta:PT Kompas Media Nusantara. 2005. hlm. 37-42

 

[2] Ibid, hlm. 9-14

[3] Syafrudin nurdin dan Basyiruddin Usman.. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: Ciputat Press. 2002. hlm. 7

[4] Kunandar. Guru Profesional; Implementasi Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Press. 2009. hlm. 47

[5] Mahmud Khalifah dan Usamah Quthub. Menjadi Guru yang Dirindu; Bagaimana Menjadi Guru yang Memikat dan Profesional. Surakarta: Ziyad Visi Media. 2009. hlm.13

[6] Ibid, hlm.36

~ oleh mfstudent pada November 8, 2010.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: