Motivasi SANG Motivator

  1. A. Pendahuluan

Motivasi sang motivator, motivator yang saya maksud disini adalah pendidik. Karena sebagai pendidik yang mempunyai motivasi juga sebagai sumber motivasi bagi anak didik. Bayangkan orang yang tanpa motivasi hidup dalam dunia kejam ini. Kehidupan yang dia tidak tahu untuk apa dia hidup. Hidup tanpa semangat dan tanpa gairah, yang dilakukan hanya berdiam diri tanpa ada nafsu untuk berubah.

Seperti seorang guru yang tidak ingin anak didiknya memahami apa yang diajarkan. Guru yang tidak mempunyai cita-cita atau tujuan untuk menjadi pendidik yang berkualitas maka akan menghasilkan anak didik yang asal-asalan. Maka dari itu, seorang pendidik yang berkualitas dia harus memiliki sebuah motivasi mengajar. Dan untuk mengetahui motivasi itu, seorang pendidik harus paham untuk apa dia mendidik?, untuk tujuan atau alasan apa mendidik?, untuk memenuhi kebutuhan sajakah, atau semata-mata hanya faktor uang? Namun masih ada pendidik yang setulus hati untuk mencari ridha Allah.

Sebenarnya apa saja motivasi dari orang yang ingin atau sudah menjadi pendidik? Inilah yang akan saya bahas pada kesempatan ini.

B. Pembahasan

1. Pengertian Motivasi

      Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku.[1] Secara bahasa berasal dari kata latin yaitu movere yang berarti menggerakkan. Dan menurut Prench motivasi adalah motivation may be defined ad the desire and willingness of a person to ecpend effort to reach a particular goal or outcome.[2] Dari pengertian tadi ada 3 kunci utama yaitu dorongan upaya, tujuan dan kebutuhan. Dorongan ini berada di dalam diri setiap individu makhluk yang tentunya dorongan ini tidak lahir sendiri, tapi ada faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya dorongan ini. Motivasi menurut Atkinson adalah salah satu faktor kesuksesan manusia setelah peluang dan intensif.[3] Kenapa? Karena kesuksesan ditentukan oleh sebuah motivasi, dimana orang yang selalu mempunyai motivasi tinggi akan mempunyai peluang untuk berhasil jika dilakukan secara intensif.

      Menurut Abraham Maslow, kebutuhan manusia secara hieraeki semuanya laten dalam siri manusia yang mencakup kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, dihargai dan dihormati dan aktualisasi diri, inilah yang disebut sebagai teori kebutuhan.[4]

      David Mc Clelland berpendapat bahwa motif adalah implikasi dari hasil pertimbangan yang telah dipelajari dengan ditandai suatu perubahan pada situasi afektif.[5] Manusia selalu ingin berubah, berubah menjadi sesuatu yang lebih baik dan diharapkan daripada sebelumnya dan ini merupakan salah satu sumber utama munculnya motif.

      Berdasarkan teori-teori motivasi diatas disimpulkan bahwa motivasi muncul akibat adanya pengaruh kebutuhan, arah tujuan dan suatu perbuatan. Maka motivasi seorang pendidik tidak akan lepas dari adanya kebutuhan, tujuan yang ingin dicapai dan menentukan upaya yang dilakukan.

      2. Motivasi Pendidik

        Apa sebenarnya motivasi pendidik? Untuk apa seseorang menjadi pendidik?

        Jika motivasi disebut sebagai dorongan dasar dalam bertindak. Maka, apa sebenarnya dorongan dasar bagi seorang pendidik, dorongan dasar bagi seseorang dapat berupa dorongan intrinsik atau dorongan ekstrinsik. Dorongan intrinsik adalah dorongan yang berasal dari dalam diri manusia dan tanpa dorongan dari luar sudah bisa berbuat. Namun, dorongan intrinsik ini bisa jadi dorongan yang sangat besar jika dibandingkan dengan dorongan dari luar. Dan kita tidak cukup hanya motivasi intrinsik saja, kita juga membutuhkan motivasi ekstrinsik apalagi sebagai pendidik. Apalagi untuk anak didik motivasi ekstrinsik ini sangat diperlukan guna menunjang semangat belajar.

        Motifasi intrinsik harus ditanamkan oleh setiap pendidik agar mempunyai suatu semangat dalam mengajar dan pada umumnya untuk kehidupan dan agar semangat intrinsik ini bisa ditiru oleh anak didik. Motifasi ini bisa berupa mengharap ridho Allah, karena setiap yang kita lakukan hanya untuk Allah. Motifasi ekstrinsik oleh setiap pendidik bisa berasal dari anak didik itu sendiri, si pendidik ingin agar anak didiknya menjadi orang yang berhasil. Sehingga ini menjadi motifasi bagi pendidik untuk meningkatkan efektifitas pembelajarannya.

        Motifasi timbul karena adanya kebutuhan, dan kebutuhan timbul karena apabila ada ketidakseimbangan antara yang dimiliki dengan apa yang menurut persepsi seyogyanya dimilikinya. Karena tidak ada manusia yang tidak butuh akan kebutuhan. Apalagi seorang pendidik yang tiap hari kerjaannya mendidik. Bagaimana manusia khususnya pendidik bisa hidup tanpa kebutuhan.

        Menurut Maslow motifasi timbul akibat, (1) Kebutuhan fisik seperti sandang, pangan, papan, seks dan lain-lain. (2) Kebutuhan keamanan. (3) Kebutuhan sosial seperti kasih sayang. (4) Kebutuhan penghargaan seperti harga diri, status, perhatian, promosi dan prestasi. (5) Kebutuhan aktualisasi diri seperti pertumbuhan.[6]

        Pendidik butuh sandang, keamanan, kasih sayang, harga diri dan pertumbuhan. Pendidik yang memiliki motivasi yang baik adalah pendidik yang memenuhi kebutuhan dirinya. Namun, tidak lupa untuk memenuhi kebutuhan anak didiknya akan ilmu pengetahuan. Perilaku pendidik yang tidak seharusnya adalah mencari kebutuhan hanya untuk kepentingan pribadi saja. Seperti halnya mencari kedudukan dan jabatan. Atau hanya mencari uang semata.

        Usaha untuk mengatasi ketidakseimbangan menimbulkan dorongan yang merupakan usaha pemenuhan kekurangan secara terarah.[7] Dapat dikatakan dorongan berorientasi pada tindakan yang secara sadar dilakukan oleh seseorang. Dorongan yang berorientasi pada tindakan itulah yang sesungguhnya menjadi inti motivasi, sebab apabila tidak ada tindakan, situasi ketidakseimbangan yang dihadapi tidak akan terpenuhi.

        Tujuan adalah segala sesuatu yang menghilangkan kebutuhan dan mengurangi dorongan.[8] Jadi, tujuan merupakan hasil akhir dari suatu upaya, jika seseorang telah berhasil mencapai garis akhir maka dia dikatakan telah memperoleh keseimbangan yang dicari baik yang bersifat fisiologis maupun psikologis.

        Maka, kenalilah motivasi kita sebagai calon pendidik, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Kenali pula kebutuhan, usaha dan tujuan kita menjadi pendidik? Mengetahui ini agar kita tidak kebingungan jika suatu saat nanti terjadi kebimbangan dalam menentukan prioritas utama antara kebutuhan fisik, keamanan dan lain-lain.

        3. Pendidik Memotivasi Anak Didik

          Menurut Atkinson kecenderungan orang yang sukses ditentukan oleh motivasi, peluang dan intensif.[9] Disinilah peran pendidik sebagai orang yang memberi motivasi kepada anak didik memiliki peran penting. Dimana pendidik yang menanamkan sifat semangat dalam diri anak didik. Semangat ini yang mendorong anak didik untuk berjuang dengan sekeras-kerasnya sampai berhasil mencapai tujuan yang diinginkan.

          Dan sebagai pendidik kita harus bisa menimbulkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik dari diri anak didik dengan berbagai cara. Adapun upaya untuk untuk membangkitkan belajar para siswa. Pertama, menggunakan metode bervariasi yang dapat mengurangi kebosanan. Kedua, memilih bahan yang menarik. Ketiga, memberikan sasaran tengah. Keempat, memberikan kesempatan sukses. Kelima, diciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Keenam, adakan persaingan sehat.[10]

          Termotivasi anak didik disebabkan karena banyak hal diantaranya metode pengajaran yang dilakukan pendidik harus bervariasi kadang dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab, diskusi, ekperimen, tugas belajar, karyawisata, kerja kelompok, regu dan sosiodrama.[11]

          Bahan atau yang menarik bagi anak didik adalah materi yang menurut anak didik dianggap sangat diperlukan bagi dirinya, sehingga dia akan berusaha dan bersemangat dalam mengikuti pengajaran tersebut.

          Memberikan sasaran tengah bagi anak didik sangat efektif untuk membangkitkan motif belajar seperti ujian semester, mid semester, ulangan harian, kuis dan sebagainya.

          Sebenarnya ada banyak sekali bagi pendidik untuk member motivasi kepada anak didik. Yang diharapkan dengan timbulnya motivasi ini menjadikan anak didik lebih bersemangat dalam mencari ilmu.

          4. Ciri-Ciri Pendidik yang Memiliki Motivasi

            Pendidik yang memiliki motivasi adalah orang yang selalu mengaplikasikan motivasi tersebut pada tingkah lakunya seperti:[12]

            a)      Berusaha lebih keras.

            b)      Mempunyai prakarsa dalam tugas.

            c)      Ingin segera mengetahui hasil dari usahanya.

            d)     Lebih realistis.

            e)      Menggunakan segenap kemampuan dalam melaksanakan segala tugasnya.

            f)       Membandingkan antara usaha yang dilakukan dengan hasil yang diperoleh.

            Dapat dikatakan bahwa disatu pihak motivasi tampak sebagai kebutuhan dan sekaligus sebagai pendorong yang dapat menggerakkan semua potensi. Sehingga motivasi bagi pendidik menjadi sebuah kebutuhan karena dengan adanya dorongan pada diri seorang pendidik maka akan memperoleh keunggulan dalam melaksanakn tugas pengajaran.

            C. Penutup

              Motivasi merupakan sebuah dorongan diri dalam melakukan segala kegiatan, faktor motivasi dapat berasal dari dalam atau dari luar diri manusia. Motivasi sangat berguna untuk hasil kerja yang lebih baik. Sehingga motivasi menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan bagi pendidik.

              Terciptanya motivasi atau bagian dari motivasi ada tiga yaitu kebutuhan, usaha dan tujuan. Lantas kebutuhan apakah yang diharapkan dari seorang pendidik, kedudukan atau sekedar harta. Mendidik manusia adalah tugas mulia yang tidak sepantasnya jika pekerjaan ini ternodai oleh motivasi yang buruk, apalagi hanya sekedar memenuhi kebituhan pribadi semata.

              Pendidik juga harus bisa menularkan motivasi belajar kepada anak didik, yang tentunya itu sangat berguna bagi proses belajar mengajar. Ada banyak sekali cara untuk membangkitkan motivai anak didik, yang terpenting hubungan antara pendidik dan anak didik saling komunikatif.

              D. Daftar Pustaka

                Uno, Hamzah B, 2007, Teori Motivasi dan Pengukurannya : Analisis di Bidang Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara

                Suparmin, 2003, Motivasi dan Etos Kerja (Guru), Jakarta: Depag RI

                Piagian, Sondang P, 1995, Teori Motivasi dan Penerapannya, Jakarta: Rineka Cipta

                Ibrahim, 1996, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: DEPDIKBUD dan Rineka Cipta

                Surakhmad, Winarno, 1979, Metodologi Pengajaran Nasional, Jemmars


                [1] Hamzah B Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya : Analisis di Bidang Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 1

                [2] Suparmin, Motivasi dan Etos Kerja (Guru), (Jakarta: Depag RI, 2003), hlm. 6

                [3] Hamzah B Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya : Analisis di Bidang Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,2007) hlm. 8

                [4] Ibid, hlm 10

                [5] Ibid, hlm 9

                [6] Suparmin, Motivasi dan Etos Kerja (Guru), (Jakarta: Depag RI, 2003), hlm. 17

                [7] Sondang P. Piagian, Teori Motivasi dan Penerapannya, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hlm. 143

                [8] Ibid, hlm. 143

                [9] Hamzah B Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya : Analisis di Bidang Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,2007) hlm. 8

                [10] Ibrahim, dkk, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: DEPDIKBUD dan Rineka Cipta, 1996) hlm. 28-29

                [11] Winarno Surakhmad, Metodologi Pengajaran Nasional, (Jemmars, 1979), hlm. 77

                [12] Suparmin, Motivasi dan Etos Kerja (Guru), (Jakarta: Depag RI, 2003), hlm. 22-23

                ~ oleh mfstudent pada Mei 13, 2010.

                Tinggalkan Balasan

                Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

                Logo WordPress.com

                You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

                Gambar Twitter

                You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

                Foto Facebook

                You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

                Foto Google+

                You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

                Connecting to %s

                 
                %d blogger menyukai ini: