ETIKA BERKAWAN dan MURID yang INISIATIF

Terlahir makhluk yang diciptakan sebagai panggilan hidup sebagai manusia. Seorang anak yang lahir mulai meraba-raba arti benda dan lingkungannya. Ia menyadari pentingnya hidup dan kemudian membaur dalam kehidupan. Disetiap tahap perkembangan sadar akan dunia sekitar dan mengerti arti sesama.
Saat itulah teman menjadi hal penting pembentukan sikap dan sifat seorang manusia. Temanlah yang akan mejerumuskan pada keburukan tapi juga bisa mengantarkan pada jalan lurus. Dorongan orang tua untuk memilih teman agar tercipta lingkungan yang baik.
Dalam proses belajar kehidupan ini, manusia dituntut untuk inisiatif. Inisiatif berguna menanamkan kemandirian seseorang dalam menghadapi sebuah permasalah dan tidak terlalu bergantung pada salah satu komponen kehidupan saja. Manusia yang tiada henti belajar akan dibahas mengenai permulaan belajar dan menciptakan peserta didik yang inisiatif serta etika dalam berkawan yang dibahas pada bab selanjutnya.

ETIKA BERKAWAN dan MURID yang INISIATIF

A. Kapan mulai belajar
Manusia itu hidup secara dinamis. Dinamis dengan melakukan penyesuaian terhadap lingkungan sehingga manusia sanggup menjawab tantangan dan permasalahan hidup sehingga semua interaksi yang terjadi memaksa manusia berubah dengan belajar. Belajar sebagai usaha seseorang yang ingin tumbuh dan berkembang adalah untuk menemukan kesejahteraan hidup.
Belajar menurut James O. Wittaker, didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku timbul atau berubah melalui latihan atau pengalaman. Definisi yang sama juga dikemukakan Cronbach dan Kingsley, keduanya sepakat bahwa belajar yang efektif adalah melalui latihan dan pengalaman/praktek.
Menurut Muh. Surya, belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Jadi, belajar adalah proses transfer ilmu bahwa dengan belajar yang tadinya tidak tahu menjadi tahu dan yang tahu menjadi lebih tahu dengan melakukan latihan dan pengalaman yang tiada henti demi kesejahteraan hidup.
Keterangan yang menjelaskan kapan dimulainya belajar dalam surat An-Nur ayat 58,

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan Pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Dari ayat diatas menjelaskan tentang tata krama pergaulan di dalam rumah tangga bahwasanya budak laki-laki maupun perempuan yang sudah menjadi pelayan dirumah serta anak-anak yang belum mencapai usia baligh. Hendaknya meminta izin bila mereka mau memasuki kamar tidur orang dewasa, terutama pada waktu-waktu yang biasa aurat terbuka yaitu sebelum shalat subuh, di waktu tengah hari dan sesudah sholat isya’. Dilain tiga waktu yang bisaanya digunakan orang tidur dikamar sendirian atau bersama istrinya, tidak mengapa orang memasuki tanpa izin dan anak-anak dari orang yang bukan muhrim yang telah baligh hendaknya lebih dahulu izin jika akan masuk.
Akhlak dalam hal kecil seperti halnya meminta izin baik mulai diajarkan kepada anak bahkan sebelum usia baligh. Hal ini diharapkan budaya izin melekat pada dirinya ketika besar nanti. Saat anak dididik akhlak, inilah sebagai langkah awal dimulainya belajar seorang manusia yaitu sebelum baligh.
Hadits berikut menerangkan kapan sebaiknya anak diajarkan sholat.
أخبرنا هشام بن سعد حدثني معاذ بن عبد اللّه بن حبيب الجهنيّ قال:دخلنا عليه فقال لامرأته: متى يصلّي الصَّبيُّ؟ فقالت: كان رجل منا يذكر عن رسول اللّه صلى الله عليه وسلم أنه سئل عن ذلك فقال: “إذا عرف يمينه من شماله فمروه بالصَّلاة”.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Hisyam bin Sa’id berkata, “Kami pernah datang kepada Mu’adz bin ‘Abdillah bin Khubaib al-Juhni. Mu’adz berkata kepada istrinya, ‘Kapankah anak harus shalat?’ Istrinya menjawab, ‘Seseorang dari keluargaku pernah menyebutkan hadits dari Rasulullah saw bahwa beliau pernah ditanya tentang itu. Lalu, beliau menjawab: “Jika anak sudah bisa membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahlah anak untuk shalat.” (HR. Abu Dawud)
Menurut John Amos Comenius, pada tahap enam tahun kedua merupakan tahap perkembangan fungsi ingatan dan imajinasi individu yang memungkinkan dalam usaha mengenal dan menganalisis lingkungannya. Fungsi ingatan dan pikiran manusia yang mulai berkembang dan anak mulai mengenal sesuatu secara objektif sehingga dapat membedakan kanan dan kiri sebagai perkembangan intelektual manusia.
Agama menganjurkan kita agar seorang anak diajar sholat ketika anak bisa membedakan kanan dan kiri yang tidak lain itu sebagai tanda perkembangan intelektual anak. Diajarkannya sholat pada usia tersebut sebagai langkah pengenalan anak terhadap keimanan melalui tata cara ibadah kepada Allah SWT.
Ada pendapat yang menjelaskan tentang kapan dimulainya pendidikan, bahwa pendidikan itu dimulai sebelum kelahirannya bahkan jauh sebelum kehamilannya yaitu sejak memilih pasangan hidup. Karena sifat orang tua besar kemungkinan diturunkan kepada anaknya. Pemilihan seorang calon suami atau istri dilihat dari berbagai criteria seperti kekayaan, keluarga, paras dan agamanya sebagai bentuk pendidikan yang berusaha menciptakan manusia yang bermutu. Dan Islam menganjurkan kriteria agama sebagai yang utama, agar tercipta manusia yang bermoral.

B. Pentingkah Memilih Teman
Teman merupakan salah satu faktor yang berperan dalam proses pendidikan kita di sekolah dan masyarakat. Karena teman adalah tempat berinteraksi dan tempat membaur selain di keluarga yang mempunyai peran dominan dalam perkembangan sifat, perilaku dan kepribadian. Itulah pentingnya teman, sehingga teman yang baik akan menularkan kita kepribadian yang baik begitu juga sebaliknya. Maka dari itu, memilih teman sangat penting agar kita tidak terpengaruh pada kejelekan.
a) Musuh jadi teman
Q.S Al Mumtahanah: 1
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), Karena rasa kasih sayang; padahal Sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu Karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, Karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, Maka Sesungguhnya dia Telah tersesat dari jalan yang lurus.”
Sebab turunnya ayat ini adalah kisah Hathib bin Abi Baha’ah yang dianggap sebagai orang munafik karena ia membuka rahasia Rasul kepada musuh Rasul. Sehingga dalam ayat ini Allah melarang orang yang beriman itu berkawan, meminta pendapat atau nasehat kepada musuh Allah. Namun, pada ayat selanjutnya (ayat 7-9), membuka harapan bahwa mungkin Allah akan mengubah keadaan orang-orang yang semula menjadi musuh akan menjadi kawan setelah masuk Islam serta beriman. Allah tidak melarang hambaNya berperilaku baik terhadap orang-orang yang tidak memeranginya dan agamanya.
Seorang yang dianggap musuh tidak boleh dijadikan teman setia. Larangan ini boleh jadi suatu sikap andai suatu saat nanti berbalik menyerang/memusuhi. Musuh yang dimaksud disini hanya orang yang memerangi Allah dan agamanya. Namun, tidak dilarang berbuat baik kepada orang selain itu. agar kita bisa mengajak kepada kebenaran.

b) Teman yang buruk
Hadits perumpaan teman yang shalih dan buruk
عن أبي موسى،عن النبي صلى الله عليه وسلم قال “إنما مثل الجليس الصالح والجليس السوء، كحامل المسك ونافخ الكير. فحامل المسك، إما أن يحذيك، وإما أن تبتاع منه، وإما أن تجد منه ريحا طيبة. ونافخ الكير، إما أن يحرق ثيابك، وإما أن تجد ريحا خبيثة”.
“Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk ialah seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan memberi minyak kepadamu, kamu membeli darinya, atau kamu mencium baunya yang harum. Sedangkan pandai besi mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu mencium bau yang tidak sedap.”(HR. Bukhari no. 5214)
Lihatlah teman kita apakah semua bebas dari kemaksiatan? Berbagai bentuk maksiat telah menyelimuti kita, tanpa hidayah Nya kita tidak akan bisa lepas. Banyak factor sehingga teman kita terperangkap kemaksiatan, seperti halnya akibat pergaulan yang salah. Pergaulan dengan teman yang salah mempengaruhi pemikiran kita jauh dari kebenaran.
Teman yang shaleh diibaratkan oleh hadits diatas sebagai pembawa minyak wangi dan teman yang buruk diibaratkan pandai besi. Teman yang shaleh bisa menunjukan kebaikan kepada kita serta menganjurkan kita untuk melaksanakannya dan juga bisa menjelaskan kepada kita tentang kejelekan dan mengingatkan kita untuk tidak melakukannya. Teman yang buruk mengajak kepada suatu keburukan dan menghalangi dari kebaikan.
Teman itu ada ada tiga macam menurut Syaikh Bakr Abu Zaid, yaitu teman manfaat, teman kenikmatan dan teman kemuliaan. Teman manfaat adalah orang yang hanya berteman selama masih bisa mengambil manfaat darimu. Jika manfaat itu sudah tidak ada, maka ia berbalik menjadi musuhmu. Teman kenikmatan merupakan orang yang berteman semata-mata agar dia bisa bersenang-senang denganmu untuk ngobrol, santai, dan begadang. Teman jenis ini hanya membuang waktu karena tidak ada manfaat yang diberi dan yang diambil. Teman kemuliaan yaitu teman yang bisa mengajakmu pada keutamaan dan mencegahmu dari perbuatan buruk. Teman jenis ini ibarat “mata uang yang langka” atau sulit didapat dimana dengannya bisa saling mendapat keutamaan.
Bukan berarti secara total kita menghindar dari teman yang buruk sifatnya itu, jika bisa dan lebih baik lagi antarkan temanmu kearah kebaikan, yang justru mendapat manfaat jika berteman denganmu.
Dua orang lebih teman akan mirip perilaku dengan satunya karena ibarat besi yang bertemu magnet. Kuatnya pengaruh teman jika mendapat teman baik, baiklah kita. Jika mendapat teman buruk, buruk pula kita.
Memilih teman menurut Syeh Az-Zarnuji yaitu,
a. Memilih teman yang tekun.
b. Memilih teman yang wira’i.
c. Memilih teman yang berwatak jujur.
d. Memilih teman yang mudah memahami masalah.
e. Menghindari teman yang malas.
f. Menghindari teman yang pengangguran.
g. Menghindari teman yang cerewet.
h. Menghindari teman yang mengacau.
i. Menghindari teman yang gemar memfitnah.

C. Sikap Bersahaja dalam Berkawan
Makna bersahaja itu sendiri adalah sikap atau perilaku seseorang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki disesuaikan dengan kebutuhan. Jadi tidak didasarkan pada keinginan semata.
a) Tidak berlebihan dalam berteman
Jika kaitannya bersahaja dengan teman maka seperti hadits ini.
عن أبي هريرة أراه رفعه قال: (أحبب حبيبك هونا ما، عسى أن يكون بغيضك يوما ما، وأبغض بغيضك هونا ما، عسى أن يكون حبيبك يوما ما)
Dari Abu Hurairah berkata,”Cintailah kekasihmu dengan sederhana saja. Boleh jadi kelak akan menjadi musuhmu dan bencilah musuhmu dengan sederhana saja. Boleh jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu. (HR. Turmudzi no.2065) Disahihkan oleh Imam Al Muhadhis Al Albani.
Hadis diatas menjelaskan bahwa dalam berkawan bahkan mencintai secukupnya saja tidak perlu berlebihan dalam sikap, manusia itu tidak selalu konsisten dalam sikapnya. Timbullah penyesalan ketika cinta yang amat sangat berubah menjadi benci atau justru malu ketika tiba-tiba jadi mencintai orang yang dulu sebagai musuh. Hal ini terjadi karena tidak ada jaminan seseorang akan selalu tetap ada disamping kita, kelak akan berpisah juga. Saat sikap yang sederhana dalam cinta dan benci, jika perpisahan itu terjadi penyesalan yang timbul tidak akan sangat kehilangan.
b) Jangan sombong
Q.S Luqman: 18
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Kata (مخثل) mukhtal diambil dari kata yang sama dengan خيال karenanya kata ini pada mulanya berarti orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalan, bukan oleh kenyataan yang ada pada dirinya. Bisaanya orang ini berjalan angkuh dan merasa dirinya memiliki kelebihan dibanding orang lain. Kuda dinamai khail (خيل) karena cara jalannya mengesankan keangkuhan sehingga membanggakan apa yang dimilikinya bahkan tidak jarang membanggakan yang bukan miliknya. Mukhtal dan fakhur sama-sama membanggakan diri. Mukhtal lebih kepada tingkah laku sedang fakhur dominan pada ucapan.
Kita dilarang memalingkan muka dari manusia. Memalingkan muka tentu saja karena sombong. Orang sombong adalah orang yang merasa lebih dan menganggap diri lebih mulia jika dibandingkan dengan orang lain. Orang sombong bisa saja karena pintar, bisa saja karena kaya, bisa karena kuat, bisa karena bagus fisik dan tidak cacat, bisa karena keturunan bangsawan dan sebagainya. Maka bentuk kesombongan itu adalah menghindari diri dari bergaul dengan orang bodoh, orang miskin atau orang yang serba berkekurangan.
Bila kita merasa lebih dari orang lain, maka disinilah munculnya dan tumbuhnya perasaan dan sikap sombong. Bila menghindari diri dari orang-orang yang serba kurang baik, niscaya kita akan medapat resiko yang lebih jelek. Satu hal yang tidak boleh dilupakan dan dikhianati adalah dalam proses pendidikan merupakan sarana pergaulan orang bodoh dengan orang pintar yang wajib dilaksanakan. Makanya kehidupan dalam masyarakat yang harmonis adalah dengan membangun kerukunan sesama warga. Fungsi-fungsi yang wajib dijalankan adalah yang kaya menyantuni yang miskin, yang pintar mengajar orang bodoh, yang kuat melindungi yang lemah, yang mampu membantu yang serba berkekurangan. Tidak sebaliknya yakni “ memalingkan muka dari manusia “ atau menzalimi sesama dalam masyarakat.

D. Murid cerdik banyak inisiatif
Zaman seperti sekarang ini peserta didik dituntut lebih banyak mempunyai inisiatif terutama dalam belajar. Inisiatif timbul dari kemauan seseorang untuk memperoleh tujuan yang diharapkan. Peserta didik disini berperan aktif dalam kegiatannya seperti hadits ini.
أبا هريرة يقول: ما من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم أحد أكثر حديثا عنه مني، إلا ما كان من عبد الله بن عمرو، فإنه كان يكتب ولا أكتب.
Abu hurairah berkata,” tidak ada dari kalangan sahabat Nabi yang lebih banyak dari ku hadisnya (dari Rasulullah SAW) selain Abdullah bin Amr karena sesungguhnya ia menulis sedang aku tidak. (HR. Bukhari no.113)
Dari hadits diatas dapat disimpulkan bahwa menulis sebagai salah satu gaya belajar untuk mengingat kembali pelajaran yang telah lalu. Mencatat merupakan salah satu langkah belajar efektif. Mencatat bertujuan menolong kita mengingat pokok-pokok penting tanpa membaca kembali bahan bacaan itu sendiri.
Mencatat juga dapat membantu hafalan seseorang, misalnya seorang murid ingin menghafal kosakata bahasa Arab, maka dengan catatan kecil ia dapat lebih mudah menghafal dan dapat dibawa kemana-mana.
Disampinghafalan perlu juga dipraktekan, sebagai contoh bentuk inisiatif seperti menulis memperlancar dalam bahasa asing dimulai seperti menulis jadwal sehari-hari ataupun lirik lagu dengan bahasa asing.
Dari hadits ini, Abu Hurairah mengakui kelebihan Abdullah bin Amr yang mencatat hadits dari Rasululllah. Orang cerdas tanpa dibarengi dengan rajin mencatat dapat dikalahkan oleh orang yang kurang cerdas tapi rajin mencatat.
Jiwa inisiatif menjadikan peserta didik mengenali tanggungjawab dalam mewujudkan tujuannya. Hal ini sebagai energi positif yang mengajarkan peserta didik untuk memecahkan masalahnya dan menghilangkan ketergantungan pada pendidik.
Pentingnya memiliki inisiatif dewasa ini agar dapat memutuskan hal yang harus dilakukan secara tepat. Melatih jiwa inisiatif pada anak dengan memberikan tanggungjawab suatu permasalahan akan melatihnya memecahkan masalah. Seperti, ibu yang melimpahkan anak untuk mengawasi saudaranya, maka dengan berlalunya waktu, anak itu akan mempunyai kemampuan untuk bergantung pada dirinya sendiri dan bisa melakukan segala kewajiban yang dibebankan.

PENUTUP
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat pangalaman dan tingkah laku. Maka dari itu, hendaknya dalam sholat pun diajarkan kepada anak mulai sejak dini sebagai langkah penanaman keimanan. Begitu juga mengenai akhlak, perlu pembelajaran usia dini agar melekat pada kepribadian anak.
Sangat dianjurkan pada kita untuk memilih teman, karena teman bisa mengajak kita pada kebenaran tapi juga bisa mengajak pada keburukan. Dan agama menganjurkan untuk memilih kawan yang sholeh supaya dapat saling memberi manfaat.
Peserta didik harus mempunyai sifat inisiatif yang akan menunjang masa depannya. Dengan inisiatif bisa membantu dalam proses belajar seperti hafalan serta membantu memecahkan masalah.

DAFTAR PUSTAKA

Soemanto, Watsy. 2006. Psikologi Pendidikan. Cet V. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Bahreisy, Salim dan Said Bahreisy. Terjemah singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5. PT. Bina Ilmu Surabaya.
Roqib, Muhammad dan Nurfuadi. 2009. Kepribadian Guru. STAIN Purwokerto Press.
Al Utsimin, Muhammad bin Shalih. 2005. Syarah Adab dan Manfaat Penuntut Ilmu. Terj. Ahmad Sabiq Jakarta: Pustaka Imam Syafe’i.
Shihab, M. Quraish. 2004. Tafsir al Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran Vol.10. Jakarta: Lentera Hati.
Susilo, Joko. 2006. Gaya belajar menjadikan makin pintar. Yogyakarta: DINUS.
Olivia, Femi. 2007. Membantu anak punya ingatan super. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Utsman, Akram Misbah. 2005. 25 Kiat Membentuk Anak Hebat. Jakarta: Gema Insanipress.

~ oleh mfstudent pada November 20, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: